Festifal Band Anak di Taman Remaja Surabaya slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Bersih-bersih Kali Surabaya slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Fasilitator PKB Level 3 dari Kota Surabaya slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Persami wujud Pendidikan Karakter slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rembuk Fasilitator slide 6 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Siswa Kelas VI sedang Belajar slide 7 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pelaksanaan Pendidikan Karakter lewat Pramuka slide 8 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pelaksanaan Pendidikan Karakter lewat Pramuka slide 9 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pelaksanaan Pendidikan Karakter lewat Pramuka slide 10 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pelaksanaan Pendidikan Karakter lewat Pentas Seni di TRS slide 11 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Penyimpanan Naskah Soal UNAS 2011-2012 slide 12 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 10 Mei 2013

MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING

MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING

Snowball Throwing adalah salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini dapat digunakan untuk memberikan konsep pemahaman materi yang sulit kepada siswa. Metode Snowball Throwing juga untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kemampuan siswa dalam menguasai materi tersebut.

Pada model pembelajaran Snowball Throwing siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok. Dipilih ketua kelompok yang akan mewakili untuk menerima tugas dari guru. Masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain kemudian siswa menjawab pertanyaan dari bola yang didapatkan.

Snowball Throwing melatih siswa untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Lemparan pertanyaan menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas kemudian dilemparkan kepada siswa lain. Siswa yang menerima bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaannya.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Snowball Throwing
1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya.
4. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
5. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama + 15 menit.
6. Setelah siswa dapat satu bola diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
7. Evaluasi.
8. Penutup. (Suprijono, 2010:128)

Model pembelajaran Snowball Throwing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah melatih kesiapan siswa dan saling memberikan pengetahuan. Kekurangan 
model kooperatif tipe Snowball Throwing yaitu pengetahuan tidak luas hanya berkutat pada pengetahuan sekitar siswa dan kurang efektif. Apakah Bapak Ibu pernah menerapkan model pembelajaran Snowball Throwing ini? Share pengalamannya di kolom komentar ya... 

Sumber: 
http://www.sekolahdasar.net/2013/02/model-pembelajaran-snowball-throwing.

MODEL PEMBELAJARAN TIPE TALKING STICK

MODEL PEMBELAJARAN TIPE TALKING STICK

Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick, guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok dengan anggota yang heterogen. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan atau minat. Setiap kelompok selanjutnya berdiskusi dan mempelajari materi pelajaran.

Model pembelajaran Talking Stick adalah suatu model pembelajaran kelompok sama seperti Snowball Throwing. Tetapi dalam penerapan model pembelajaran ini, dengan memanfaatkan tongkat oleh sebab itulah disebut Talking Stick (tongkat berbicara). Pada 
model pembelajaran Snowball Throwing setiap siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola lalu dilempar ke siswa lain.

Bagi kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru. Sebelumnya siswa sudah mempelajari materi pokoknya. Kegiatan tersebut diulang terus-menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru.

Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Talking Stick

1.     Guru menyiapkan sebuah tongkat yang kira-kira panjangnya 20 cm.
2.     Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan anggota 4-6 siswa
3.     Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari
4.     Guru memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
5.     Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
6.     Setelah siswa selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan siswa untuk menutup isi bacaan.
7.     Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
8.     Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
9.     Guru memberikan evaluasi/penilaian.
10.  Guru menutup pembelajaran.

Kelebihan penerapan model pembelajaran Talking Stick adalah menguji kesiapan siswa dan melatih membaca dan memahami dengan cepat serta lebih giat dalam belajar. 
Model pembelajaran ini membuat anak didik ceria, senang, dan melatih mental anak didik untuk siap pada kondisi dan siatuasi apapun. 

Sumber: 
http://www.sekolahdasar.net/2013/02/model-pembelajaran-kooperati

METODE INVACT

METODE INVACT

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen olehhard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter siswa sangat penting untuk ditingkatkan.

Metode Invact hadir untuk menjawab kebutuhan pendidikan akan pentingnya penanaman karakter pada siswa. Metode ini melengkapi kurikulum baru 2013 yang merancangkan 
pembelajaran SD tematik di semua kelas sehingga penanaman nilai untuk pembentukan karakter menjadi terintegrasi dalam pembelajaran. Oleh karena itu pembelajaran menjadi lebih bermakna.

A. Pengertian Metode Invact
Metode invact (increase value activity) adalah metode 
penanaman nilai menggunakan berbagai aktivitas yang dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai dan direfleksi aplikasi nilainya setelah kegiatan pembelajaran selesai. Metode ini merupakan salah satu cara untuk membentuk karakter siswa. 

B. Karakteristik Metode Invact
1. Aktivitas yang digunakan merupakan aktivitas yang mengandung nilai-nilai kehidupan.

2. Aktivitas bisa berupa permainan, menonton video, mendengarkan atau membaca cerita, menganalisis lagu secara sederhana, dan sebagainya.

3. Guru harus menyusun agenda tema untuk satu tahun. Guru harus menentukan karakter apa yang diharapkan muncul dalam satu tahun ajaran (goal = karakter utama). Karakter ini kemudian dipetakan menjadi beberapa karakter khusus yang membentuk karakter utama tersebut dimiliki oleh seseorang. Jumlah karakter khusus menyesuaikan kebijakan guru bisa dua, tiga, empat, dan sebagainya. Kemudian dari karakter khusus ini dicari nilai-nilai utama pembentuk karakter tersebut. Nilai utama ini yang akan menjadi payung nilai satu bulan atau bisa satu minggu. Dari nilai utama ini kemudian ditentukan nilai khusus yang akan diaplikasikan pada kegiatan pembelajaran. Misalnya selama satu minggu menggunakan nilai utama kerjasama maka hari pertama menggunakan nilai indahnya perbedaan, hari kedua bersahabat dengan semua teman, dan seterusnya.

4. Aktivitas yang dipilih disesuaikan dengan tema pada pertemuan tersebut.

5. Nilai dalam setiap kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan nilai khusus yang sudah disepakati bersama. Misalnya tentang mencintai lingkungan, maka pada soal cerita pembelajaran Matematika menggunakan cerita-cerita yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan.

6. Penemuan nilai dalam aktivitas dilakukan dengan diskusi bersama antara 
guru dan siswa. Guru harus melakukan banyak pancingan kepada siswa dalam diskusi supaya nilai yang disepakati bersama sesuai dengan tema pada pertemuan tersebut dan urutan tema dalam agenda.

7. Nilai yang dipilih akan menjadi tema nilai pertemuan satu hari tersebut. Di akhir kegiatan pembelajaran akan ada refleksi nilai. Siswa yang mengaplikasikan nilai tersebut selama satu hari akan mendapat bintang sedangkan siswa yang melanggar akan dikurangi bintangnya. Pada akhir semester atau akhir tahun ajaran bintang-bintang tersebut akan dihitung dan siswa tertentu (yang memiliki bintang terbanyak atau memenuhi jumlah bintang tertentu tergantung kebijakan guru) akan mencapat reward dari guru atau sekolah.

8. Sebisa mungkin guru harus mengawasi siswa selama kegiatan pembelajaran di sekolah dan memacu siswanya untuk jujur dalam kegiatan refleksi.

9. Guru memiliki buku catatan bintang untuk anak dan menyediakan reward untuk siswa yang disepakati akan mendapat reward (jumlah bintang terbanyak atau memenuhi jumlah tertentu tergantung kebijakan guru).

10. Aktivitas dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Aktivitas ini merupakan kegiatan di luar apersepsi.

11. Waktu untuk aktivitas 10-15 menit sedangkan untuk refleksi 5-10 menit atau menyesuaikan kebijakan sekolah dan guru.

C. Langkah-langkah Metode Invact
1. Kegiaatan diawali dengan doa dan salam.
2. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang aktivitas yang akan dilakukan.
3. Siswa mengikuti instruksi guru untuk melakukan aktivitas.
4. Siswa dan guru berdiskusi untuk menentukan nilai apa yang akan disepakati bersama untuk menjadi tema nilai pada pertemuan satu hari tersebut.
5. Selama satu hari aplikasi dari nilai tersebut akan dilakukan siswa dan dimonitor guru maupun sesama siswa.
6. Setelah pembelajaran selesai dilakukan refleksi untuk menentukan siswa yang mendapat bintang atau dikurangi bintangnya serta nasehat dari guru.
7. Kegiatan diakhiri dengan salam dan doa.

D. Kelebihan Metode Invact
1. Sistematis, memiliki tujuan yang jelas dan strategi yang tersusun di awal tahun.
2. Meningkatkan kebermaknaan kegiatan pembelajaran.
3. Strategis, secara tidak langsung masuk (include) dalam kegiatan pembelajaran.
4. Meningkatkan motivasi siswa. Karena mengawali kegiatan pembelajaran dengan aktivitas yang menyenangkan dan bernilai maka dapat menumbuhkan sikap “suka sekolah” bagi siswa.
5. Meningkatkan profesionalitas dan kreativitas guru dengan learning by do dalam menentukan nilai dan aktivitas yang akan dilakukan.

E. Kekurangan Metode Invact
1. Menambah waktu kegiatan pembelajaran sekitar 20-30 menit sehingga siswa harus pulang lebih siang. Kemungkinan juga akan mengubah jadwal istirahat pembelajaran.
2. Menambah biaya operasional di sekolah.
3. Keefektifannya bergantung pada kedisiplinan guru dan siswa.

F. Contoh Aktivitas dan Nilai
PENYELAMATAN BENDERA PUSAKA
Tujuan : Menanamkan Nilai-2 Nasionalisme
Peserta : 4 orang
Waktu : +10 menit
Media : Tongkat Berbendera, Tali, Standar Tongkat, Penutup Mata
Proses : Memindahkan Tongkat berbendera yang sudah diikat dengan tali yang dipegang masing-masing orang

BLIND GLASSES
Tujuan : Memupuk Kerjasama, Disiplin, Kepemimpinan
Peserta : + 8 orang
Waktu : + 10 menit
Media : Penutup Mata, Kain, Botol berisi air
Proses : Peserta ditutup mata, memegang ujung kain yang ditengahnya ada botol berisi air mebawa dari satu titik ke titik lainnya.

MENUJU PULAU BAHAGIA
Tujuan : Melatih kepemimpinan, keterampilan, Kerjasama
Peserta : 8 orang
Waktu : 10 menit
Media : Benang/Tali, Gelas Plastik
Proses : Diajak bernyanyi Maju Tak Gentar terlebih dahulu, kemudian Gelas Plastik yang dibolongi ditaruh di benang yang kedua ujungnya dipegang oleh 2 orang, kemudian gelas plastik tersebut ditiup agar berpindah.

Sumber: 
http://www.sekolahdasar.net/2012/12/membentuk-karakter-siswa-melalui-metode-invact

METODE BRAINSTORMING UNTUK HIMPUN IDE SISWA

METODE BRAINSTORMING UNTUK HIMPUN IDE SISWA

Metode brainstorming adalah teknik mengajar yang dilaksanakan guru dengan cara melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab, menyatakan pendapat, atau memberi komentar sehingga memungkinkan masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru

Tokoh yang mempopulerkan metode brainstorming adalah Alex F. Osborn yang dalam bukunya Applied Imagination itu disebut juga dengan metode sumbang saran. Metode brainstorming merupakan suatu bentuk metode diskusi guna menghimpun ide atau gagasan, pendapat, dan pengalaman siswa.

Teknik ini hanya untuk menghasilkan gagasan yang mencoba mengatasi segala hambatan dan kritik. Kegiatan ini mendorong munculnya banyak ide, termasuk ide yang nyleneh, liar, dan berani dengan harapan bahwa gagasan tersebut dapat menghasilkan ide yang kreatif.

Metode brainstorming bertujuan untuk menghimpun ide, pendapat, informasi, pengalaman semua siswa yang sama atau berbeda. Hasil akhirnya lantas dijadikan peta info, peta pengalaman, atau peta ide (mindmap) untuk evaluasi. Metode ini menguras habis apa yang dipikirkan para siswa di dalam menanggapi permasalahan yang dilontarkan guru di kelas.

Langkah-langkah Penerapan Metode Brainstorming

·      Pemberian informasi dan motivasi. Pada tahap ini guru menjelaskan masalah yang akan dibahas dan latar belakangnya, kemudian mengajak siswa agar aktif untuk memberikan tanggapannya.
·     Identifikasi. Siswa diajak memberikan sumbang saran pemikiran sebanyak-banyaknya. Semua saran yang diberikan siswa ditampung, ditulis dan jangan dikritik. Pemimpin kelompok dan peserta dibolehkan mengajukan pertanyaan hanya untuk meminta penjelasan.
·     Klasifikasi. Mengklasifikasi berdasarkan kriteria yang dibuat dan disepakati oleh kelompok. Klasifikasi bisa juga berdasarkan struktur/faktor-faktor lain.
·     Verifikasi. Kelompok secara bersama meninjau kembali sumbang saran yang telah diklasifikasikan. Setiap sumbang saran diuji relevansinya dengan permasalahan yang dibahas. Apabila terdapat kesamaan maka yang diambil adalah salah satunya dan yang tidak relevan dicoret. Namun kepada pemberi sumbang saran bisa dimintai argumentasinya.
·      Konklusi (Penyepakatan). Guru/pimpinan kelompok beserta peserta lain mencoba menyimpulkan butir-butir alternatif pemecahan masalah yang disetujui. Setelah semua puas, maka diambil kesepakatan terakhir cara pemecahan masalah yang dianggap paling tepat.

Tugas guru dalam pelaksanaan metode brainstorming:

·   Memberikan masalah yang mampu merangsang pikiran siswa, sehingga mereka tertarik untuk menanggapinya.
·       Tidak boleh mengomentari atau mengevaluasi bahwa pendapat yang dikemukakan oleh siswa itu benar/salah.
·       Guru tidak perlu menyimpulkan permasalahan yang telah ditaggapi siswa.
·     Guru hanya menampung semua pernyataan pendapat siswa, dan memastikan semua siswa di dalam kelas mendapat giliran.
·       Memberikan pertanyaan untuk memancing siswa yang kurang aktif menjadi tertarik.

Tugas siswa dalam pelaksanaan metode brainstorming:

· Menanggapi masalah dengan mengemukakan pendapat, komentar, mengajukan pertanyaan, atau mengemukakan masalah baru.
·       Belajar dan melatih merumuskan pendapatnya dengan bahasa dan kalimat yang baik.
·       Berpartisipasi aktif, dan berani mengemukakan pendapatnya.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Brainstorming

Kelebihan metode brainstorming adalah penggunaan kapasitas otak dalam menjabarkan gagasan atau menyampaikan suatu ide. Dalam proses brainstorming, seseorang akan dituntut untuk mengeluarkan semua ide sesuai dengan kapasitas wawasan dan psikologisnya. Sebagai mana metode mengajar lainnya, metode brainstorming juga memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan metode brainstorming antara lain:

·       Siswa berfikir untuk menyatakan pendapat.
·       Melatih siswa berpikir dengan cepat dan tersusun logis.
·    Merangsang siswa untuk selalu siap berpendapat yang berhubungan dengan masalah yang diberikan oleh guru.
·       Meningkatkan partisipasi siswa dalam menerima pelajaran.
·       Siswa yang kurang aktif mendapat bantuan dari temannya yang sudah pandai atau dari guru.
·       Terjadi persaingan yang sehat.
·       Anak merasa bebas dan gembira.
·       Suasana demokratis dan disiplin dapat ditumbuhkan.
·       Meningkatkan motivasi belajar.

Kekurangan metode brainstorming antara lain:

·       Memerlukan waktu yang relatif lama.
·       Lebih didominasi oleh siswa yang pandai.
·       Siswa yang kurang pandai (lambat) selalu ketinggalan.
·       Hanya menampung tanggapan siswa saja.
·       Guru tidak pernah merumuskan suatu kesimpulan.
·       Siswa tidak segera tahu apakah pendapat yang dikemukakannya itu betul atau salah.
·       Tidak menjamin terpecahkannya suatu masalah.
·       Masalah bisa melebar ke arah yang kurang diharapkan.

Kekurangan di atas bisa diatasi jika guru atau pemimpin kelompok bisa membaca situasi dan menguasai kelas dengan baik untuk mencari solusi. Guru harus bisa menjadi penengah dan mengatur situasi dalam kelas sebaik mungkin dengan cara benar-benar menguasai materi yang akan disampaikan dan merencanakan kegiatan belajar dengan baik.