Festifal Band Anak di Taman Remaja Surabaya slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Bersih-bersih Kali Surabaya slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Fasilitator PKB Level 3 dari Kota Surabaya slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Persami wujud Pendidikan Karakter slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rembuk Fasilitator slide 6 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Siswa Kelas VI sedang Belajar slide 7 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pelaksanaan Pendidikan Karakter lewat Pramuka slide 8 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pelaksanaan Pendidikan Karakter lewat Pramuka slide 9 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pelaksanaan Pendidikan Karakter lewat Pramuka slide 10 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pelaksanaan Pendidikan Karakter lewat Pentas Seni di TRS slide 11 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Penyimpanan Naskah Soal UNAS 2011-2012 slide 12 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 27 Januari 2015

MODEL PEMBELAJARAN BERBALIK (FLIPPED LEARNING)

Perkembangan teknologi yang semakin pesat saat ini sangat berpengaruh pada kebiasaan dan cara belajar siswa dan mengajar guru di sekolah. Hampir sebagian besar waktu luang siswa di sekolah, yang seharusnya digunakan untuk belajar, dihabiskan untuk mengakses gadget, seperti SMS-an, FB-an, Twitter-an dan aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan aktivitas belajar. Perkembangan teknologi yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran ternyata belum banyak dioptimalkan oleh siswa untuk mengakses pelajaran.
Demikian pula cara mengajar guru banyak difasilitasi oleh teknologi, namun masih banyak di antara kita yang masih menggunakan metode dan model pembelajaran lama (biasanya ceramah), di mana proses pembelajaran masih berpusat pada guru. Bahkan terkadang guru merasa belum puas, jika saat mengajar tidak menjelaskan (ceramah). Siswanya pun mengaku belum diajar, jika belum diceramahi. Hal ini dikarenakan siswa sudah terbiasa duduk di kelas, mendengarkan guru berceramah, untuk menyampaikan materi pelajarannya.
Alasan klise “infrastruktur sekolah yang tidak mendukung”, biasanya menjadi alasan kenapa guru belum memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajaran di kelas.
Berangkat dari kenyataan di atas, maka diperlukan model ataupun metode pembelajaran yang dapat memotivasi guru dan siswa untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara benar untuk proses pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan adalah Model Pembelajaran Berbalik (Flipped Learning).

A. PEMBELAJARAN BERBALIK (FLIPPED LEARNING)
        Pembelajaran Berbalik (Flipped Learning) adalah model pembelajaran dimana murid memplejari materi baru dengan membaca, atau menyaksikan video pembelajaran secara mandiri (di rumah) dan kemudian di kelas pelajaran itu dibahas atau didiskusikan kembali.  Di sebut terbalik, karena biasanya pembelajaran konvensional dimulai dengan guru menyampaikan materi pelajaran baru di kelas (biasanya dengan cara ceramah) lalu memberi tugas atau PR.
Umumnya Flipped Learning menggunakan sumber dari pihak ketiga, yang banyak tersedia di internet. Seperti di Khan Academy, Youtube atau Teachertube Wikipedia. Tapi jika tidak dapat menemukan materi pelajaran yang tepat atau bahasa (Inggris) masih menjadi kendala, maka guru dapat membuat sendiri video pembelajaran atau e-book dan kemudiannya meng-uploadnya di internet atau situs e-learning sekolahnya.
http://arcade.dewlines.org/files/2013/01/flipped-classroom-1.jpg
Melalui Action Plan ini Flipped Learning menjadi salah satu pilihan penting dalam memilih Pengembangan Model Pembelajaran di sekolah kami.
Berikut adalah beberapa kelebihan dan kelemahan yang menjadi alasan kenapa kita perlu menggunakan model pembelajaran flipped learning ini:

B. KELEBIHAN FLIPPED LEARNING
1.     Bagi Siswa :
a.   Siswa (dipaksa) memiliki waktu untuk mempelajari materi pelajaran di rumah sebelum guru menyampaikannya di kelas. Dengan demikian, siswa lebih mandiri dan tidak lagi hanya menunggu guru menyampaikan materi pelajarannya di kelas.
b.  Siswa dapat mempelajari materi pelajaran dalam kondisi dan suasana yang nyaman sesuai dengan kemampuannya menerima materi. Siswa yang pintar dapat belajar secara cepat, sedangkan bagi siswa yang kurang mampu, mereka dapat mengulang materi pelajaran (video) sesukanya sampai mereka faham.
c.  Setiap siswa bisa mendapatkan perhatian penuh dari guru saat mengalami kesulitan dalam memahami konsep maupun tugas/latihan/kuis. Hal ini dikarenakan di dalam kelas, guru hanya membahas (mereview) materi-materi yang menurut siswa sulit (saja). Atau, guru bisa meminta siswa yang sudah memahami materi, untuk membantu temannya yang belum faham. Dengan demikian dapat dipastikan setiap siswa telah memahami materi dengan baik.
d.   Siswa dapat belajar dari berbagai jenis konten pembelajaran baik melalui video, website, aplikasi mobile atau jenis konten yang lain. Hal ini memudahkan siswa memahami materi pelajaran, dari pada siswa hanya belajar dari papan tulis atau buku.
2.     Bagi guru :
a.    Lebih efektif, karena materi disajikan dalam bentuk video, sehingga bisa digunakan berulang-ulang pada kelas yang lain.
b.    Hemat waktu, karena guru tidak harus menjelaskan semua materi pelajaran, akan tetapi hanya bagian-bagian tertentu yang dianggap sulit oleh siswa.
c.  Guru termotivasi untuk mempersiapkan materi pelajaran dalam berbagai jenis konten, baik berupa video, website, aplikasi mobile atau jenis konten yang lain. Sehingga pelaksanaan pembelajaran lebih terencana dan tertata dengan baik.
d.  Guru semakin kreatif dalam membuat modul pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi yang memudahkan siswa dalam memahami konsep.
e.  Terjalin komunikasi yang aktif antara guru dan siswa, karena pembelajaran di kelas lebih banyak dilakukan dengan berdiskusi (tanya jawab) di antara mereka.

C. KELEMAHAN FLIPPED LEARNING
a.   Tidak semua siswa/guru/sekolah memiliki akses terhadap perangkat teknologi informasi yang dibutuhkan, seperti komputer/laptop dan koneksi internet.
b. Tidak semua siswa merasa nyaman belajar di depan komputer/laptop. Padahal untuk melaksanakan model pembelajaran ini, siswa harus mengakses materi melalui perangkat tersebut.
c.    Tidak semua siswa memiliki motivasi untuk belajar secara mandiri di rumah. Apalagi terhadap materi yang belum disampaikan oleh guru. Sehingga motivasi dari guru selalu dibutuhkan, agar siswa terbiasa mempelajari materi pelajaran secara mandiri, sebelum materi tersebut disampaikan oleh guru di kelas.
d.   Butuh waktu lama bagi guru untuk mempersiapkan materi dalam bentuk video, terutama guru yang belum terbiasa membuat video pembelajaran.

         Meski banyak keuntungan yang didapat dari pelaksanaan model pembelajaran flipped learning, namun tetap saja ada kekurangannya. Dari kelebihan dan kekurangan flipped learning di atas, memang tidak mudah, bahkan butuh waktu untuk menyiapkan materi pembelajaran (video) dan menerapkannya di dalam kelas kami.

Jumat, 10 Mei 2013

MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING

MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING

Snowball Throwing adalah salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini dapat digunakan untuk memberikan konsep pemahaman materi yang sulit kepada siswa. Metode Snowball Throwing juga untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kemampuan siswa dalam menguasai materi tersebut.

Pada model pembelajaran Snowball Throwing siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok. Dipilih ketua kelompok yang akan mewakili untuk menerima tugas dari guru. Masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain kemudian siswa menjawab pertanyaan dari bola yang didapatkan.

Snowball Throwing melatih siswa untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Lemparan pertanyaan menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas kemudian dilemparkan kepada siswa lain. Siswa yang menerima bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaannya.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Snowball Throwing
1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya.
4. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
5. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama + 15 menit.
6. Setelah siswa dapat satu bola diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
7. Evaluasi.
8. Penutup. (Suprijono, 2010:128)

Model pembelajaran Snowball Throwing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah melatih kesiapan siswa dan saling memberikan pengetahuan. Kekurangan 
model kooperatif tipe Snowball Throwing yaitu pengetahuan tidak luas hanya berkutat pada pengetahuan sekitar siswa dan kurang efektif. Apakah Bapak Ibu pernah menerapkan model pembelajaran Snowball Throwing ini? Share pengalamannya di kolom komentar ya... 

Sumber: 
http://www.sekolahdasar.net/2013/02/model-pembelajaran-snowball-throwing.

MODEL PEMBELAJARAN TIPE TALKING STICK

MODEL PEMBELAJARAN TIPE TALKING STICK

Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick, guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok dengan anggota yang heterogen. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan atau minat. Setiap kelompok selanjutnya berdiskusi dan mempelajari materi pelajaran.

Model pembelajaran Talking Stick adalah suatu model pembelajaran kelompok sama seperti Snowball Throwing. Tetapi dalam penerapan model pembelajaran ini, dengan memanfaatkan tongkat oleh sebab itulah disebut Talking Stick (tongkat berbicara). Pada 
model pembelajaran Snowball Throwing setiap siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola lalu dilempar ke siswa lain.

Bagi kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru. Sebelumnya siswa sudah mempelajari materi pokoknya. Kegiatan tersebut diulang terus-menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru.

Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Talking Stick

1.     Guru menyiapkan sebuah tongkat yang kira-kira panjangnya 20 cm.
2.     Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan anggota 4-6 siswa
3.     Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari
4.     Guru memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
5.     Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
6.     Setelah siswa selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan siswa untuk menutup isi bacaan.
7.     Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
8.     Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
9.     Guru memberikan evaluasi/penilaian.
10.  Guru menutup pembelajaran.

Kelebihan penerapan model pembelajaran Talking Stick adalah menguji kesiapan siswa dan melatih membaca dan memahami dengan cepat serta lebih giat dalam belajar. 
Model pembelajaran ini membuat anak didik ceria, senang, dan melatih mental anak didik untuk siap pada kondisi dan siatuasi apapun. 

Sumber: 
http://www.sekolahdasar.net/2013/02/model-pembelajaran-kooperati

METODE INVACT

METODE INVACT

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen olehhard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter siswa sangat penting untuk ditingkatkan.

Metode Invact hadir untuk menjawab kebutuhan pendidikan akan pentingnya penanaman karakter pada siswa. Metode ini melengkapi kurikulum baru 2013 yang merancangkan 
pembelajaran SD tematik di semua kelas sehingga penanaman nilai untuk pembentukan karakter menjadi terintegrasi dalam pembelajaran. Oleh karena itu pembelajaran menjadi lebih bermakna.

A. Pengertian Metode Invact
Metode invact (increase value activity) adalah metode 
penanaman nilai menggunakan berbagai aktivitas yang dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai dan direfleksi aplikasi nilainya setelah kegiatan pembelajaran selesai. Metode ini merupakan salah satu cara untuk membentuk karakter siswa. 

B. Karakteristik Metode Invact
1. Aktivitas yang digunakan merupakan aktivitas yang mengandung nilai-nilai kehidupan.

2. Aktivitas bisa berupa permainan, menonton video, mendengarkan atau membaca cerita, menganalisis lagu secara sederhana, dan sebagainya.

3. Guru harus menyusun agenda tema untuk satu tahun. Guru harus menentukan karakter apa yang diharapkan muncul dalam satu tahun ajaran (goal = karakter utama). Karakter ini kemudian dipetakan menjadi beberapa karakter khusus yang membentuk karakter utama tersebut dimiliki oleh seseorang. Jumlah karakter khusus menyesuaikan kebijakan guru bisa dua, tiga, empat, dan sebagainya. Kemudian dari karakter khusus ini dicari nilai-nilai utama pembentuk karakter tersebut. Nilai utama ini yang akan menjadi payung nilai satu bulan atau bisa satu minggu. Dari nilai utama ini kemudian ditentukan nilai khusus yang akan diaplikasikan pada kegiatan pembelajaran. Misalnya selama satu minggu menggunakan nilai utama kerjasama maka hari pertama menggunakan nilai indahnya perbedaan, hari kedua bersahabat dengan semua teman, dan seterusnya.

4. Aktivitas yang dipilih disesuaikan dengan tema pada pertemuan tersebut.

5. Nilai dalam setiap kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan nilai khusus yang sudah disepakati bersama. Misalnya tentang mencintai lingkungan, maka pada soal cerita pembelajaran Matematika menggunakan cerita-cerita yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan.

6. Penemuan nilai dalam aktivitas dilakukan dengan diskusi bersama antara 
guru dan siswa. Guru harus melakukan banyak pancingan kepada siswa dalam diskusi supaya nilai yang disepakati bersama sesuai dengan tema pada pertemuan tersebut dan urutan tema dalam agenda.

7. Nilai yang dipilih akan menjadi tema nilai pertemuan satu hari tersebut. Di akhir kegiatan pembelajaran akan ada refleksi nilai. Siswa yang mengaplikasikan nilai tersebut selama satu hari akan mendapat bintang sedangkan siswa yang melanggar akan dikurangi bintangnya. Pada akhir semester atau akhir tahun ajaran bintang-bintang tersebut akan dihitung dan siswa tertentu (yang memiliki bintang terbanyak atau memenuhi jumlah bintang tertentu tergantung kebijakan guru) akan mencapat reward dari guru atau sekolah.

8. Sebisa mungkin guru harus mengawasi siswa selama kegiatan pembelajaran di sekolah dan memacu siswanya untuk jujur dalam kegiatan refleksi.

9. Guru memiliki buku catatan bintang untuk anak dan menyediakan reward untuk siswa yang disepakati akan mendapat reward (jumlah bintang terbanyak atau memenuhi jumlah tertentu tergantung kebijakan guru).

10. Aktivitas dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Aktivitas ini merupakan kegiatan di luar apersepsi.

11. Waktu untuk aktivitas 10-15 menit sedangkan untuk refleksi 5-10 menit atau menyesuaikan kebijakan sekolah dan guru.

C. Langkah-langkah Metode Invact
1. Kegiaatan diawali dengan doa dan salam.
2. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang aktivitas yang akan dilakukan.
3. Siswa mengikuti instruksi guru untuk melakukan aktivitas.
4. Siswa dan guru berdiskusi untuk menentukan nilai apa yang akan disepakati bersama untuk menjadi tema nilai pada pertemuan satu hari tersebut.
5. Selama satu hari aplikasi dari nilai tersebut akan dilakukan siswa dan dimonitor guru maupun sesama siswa.
6. Setelah pembelajaran selesai dilakukan refleksi untuk menentukan siswa yang mendapat bintang atau dikurangi bintangnya serta nasehat dari guru.
7. Kegiatan diakhiri dengan salam dan doa.

D. Kelebihan Metode Invact
1. Sistematis, memiliki tujuan yang jelas dan strategi yang tersusun di awal tahun.
2. Meningkatkan kebermaknaan kegiatan pembelajaran.
3. Strategis, secara tidak langsung masuk (include) dalam kegiatan pembelajaran.
4. Meningkatkan motivasi siswa. Karena mengawali kegiatan pembelajaran dengan aktivitas yang menyenangkan dan bernilai maka dapat menumbuhkan sikap “suka sekolah” bagi siswa.
5. Meningkatkan profesionalitas dan kreativitas guru dengan learning by do dalam menentukan nilai dan aktivitas yang akan dilakukan.

E. Kekurangan Metode Invact
1. Menambah waktu kegiatan pembelajaran sekitar 20-30 menit sehingga siswa harus pulang lebih siang. Kemungkinan juga akan mengubah jadwal istirahat pembelajaran.
2. Menambah biaya operasional di sekolah.
3. Keefektifannya bergantung pada kedisiplinan guru dan siswa.

F. Contoh Aktivitas dan Nilai
PENYELAMATAN BENDERA PUSAKA
Tujuan : Menanamkan Nilai-2 Nasionalisme
Peserta : 4 orang
Waktu : +10 menit
Media : Tongkat Berbendera, Tali, Standar Tongkat, Penutup Mata
Proses : Memindahkan Tongkat berbendera yang sudah diikat dengan tali yang dipegang masing-masing orang

BLIND GLASSES
Tujuan : Memupuk Kerjasama, Disiplin, Kepemimpinan
Peserta : + 8 orang
Waktu : + 10 menit
Media : Penutup Mata, Kain, Botol berisi air
Proses : Peserta ditutup mata, memegang ujung kain yang ditengahnya ada botol berisi air mebawa dari satu titik ke titik lainnya.

MENUJU PULAU BAHAGIA
Tujuan : Melatih kepemimpinan, keterampilan, Kerjasama
Peserta : 8 orang
Waktu : 10 menit
Media : Benang/Tali, Gelas Plastik
Proses : Diajak bernyanyi Maju Tak Gentar terlebih dahulu, kemudian Gelas Plastik yang dibolongi ditaruh di benang yang kedua ujungnya dipegang oleh 2 orang, kemudian gelas plastik tersebut ditiup agar berpindah.

Sumber: 
http://www.sekolahdasar.net/2012/12/membentuk-karakter-siswa-melalui-metode-invact